Jumat, 02 Oktober 2009

Raja & Bupati dari masa ke masa

Nama Raja-raja Kerajaan Sumedang Larang
a. Prabu Guru Aji Putih Tahun 900

b. Prabu Agung Resi Cakrabuana / Prabu Taji Malela Tahun 950

c. Prabu Gajah Agung Tahun 980

d. Sunan Guling Tahun 1000

e. Sunan Tuakan Tahun 1200

f. Nyi Mas Ratu Patuakan Tahun 1450

g. Ratu Pucuk Umun / Nyi Mas Ratu Dewi Inten Dewata Tahun 1530 -1578
h. Prabu Geusan Ulun / Pangeran Angkawijaya Tahun 1578 -1601

2 Nama Bupati Wedana Masa Pemerintahan Mataram II

a. R. Suriadiwangsa / Pangeran Rangga Gempol I Tahun 1601 -1625
b. Pangeran Rangga Gede Tahun 1625 -1633
c. Pangeran Rangga Gempol II Tahun 1633 -1656
d. Pangeran Panembahan / Pangeran Rangga Gempol III Tahun 1656 -1706

3 Nama Bupati Wedana Masa Pemerintahan VOC, Inggris,Belanda dan Jepang

a. Dalem Tumenggung Tanumaja Tahun 1706 -1709
b. Pangeran Karuhun Tahun 1709 -1744
c. Dalem Istri Rajaningrat Tahun 1744 -1759
d. Dalem Anom Tahun 1759 -1761
e. Dalem Adipati Surianagara Tahun 1761 -1765
f. Dalem Adipati Surialaga Tahun 1765 -1773
g. Dalem Adipati Tanubaja (Parakan Muncang) Tahun 1773 -1775
h. Dalem Adipati Patrakusumah (Parakan Muncang) Tahun 1775 -1789
i. Dalem Aria Sacapati Tahun 1789 -1791
j. Pangeran Kornel / Pangeran Kusumahdinata Tahun 1791 -1828
k. Dalem Adipati Kusumahyuda / Dalem Ageung Tahun 1828 -1833
l. Dalem Adipati Kusumahdinata / Dalem Alit Tahun 1833 -1834
m. Dalem Tumenggung Suriadilaga / Dalem Sindangraja Tahun 1834 -1836
n. Pangeran Suria Kusumah Adinata / Pangeran Soegih Tahun 1836 -1882
o. Pangeran Aria Suria Atmaja / Pangeran Mekkah Tahun 1882 -1919
p. Dalem Adipati Aria Kusumahdilaga / Dalem Bintang Tahun 1919 -1937
q. Dalem Tumenggung Aria Suria Kusumah Adinata Tahun 1937 -1946

4. Bupati Masa Peralihan Republik Indonesia

a. Raden Hasan Suria Sacakusumah Tahun 1946 - 1947
5. Bupati Masa Pemerintahan Belanda / Indonesia
a. Raden Tumenggung M. Singer Tahun 1947 - 1949
6. Bupati Masa Pemerintahan Negara Pasundan
a. Raden Hasan Suria Sacakusumah Tahun 1949 - 1950
7. Bupati Masa Pemerintahan Republik Indonesia
a. Raden Abdurachman Kartadipura Tahun 1950 - 1951
b. Sulaeman Suwita Kusumah Tahun 1951 - 1958
c. Antan Sastradipura Tahun 1958 - 1960
d. Muhammad Hafil Tahun 1960 - 1966
e. Adang Kartaman Tahun 1966 - 1970
f. Drs. Supyan Iskandar Tahun 1970 - 1972
h. Drs. Supyan Iskandar Tahun 1972 - 1977
g. Drs. Kustandi Abdurahman Tahun 1977 - 1983
h. Drs. Sutarja Tahun 1983 - 1988
i. Drs. Sutarja Tahun 1988 - 1993
j. Drs. H. Moch. Husein Jachja Saputra Tahun 1993 - 1998
k. Drs. H. Misbach Tahun 1998 - 2003
l. H. Don Murdono,SH. Msi Tahun 2003 - 2008
m. H. Don Murdono,SH. Msi Tahun 2008 - 2013

Sejarah singkat kerajaan sumedang

Prabu Agung Resi Cakrabuana (900 M)
Prabu Agung Resi Cakrabuana atau lebih dikenal Prabu Tajimalela dianggap sebagai pokok berdirinya Kerajaan Sumedang. Pada awal berdiri bernama Kerajaan Tembong Agung dengan ibukota di Leuwihideung (sekarang Kecamatan Darmaraja). Ia punya tiga putra yaitu Prabu Lembu Agung, Prabu Gajah Agung, dan Sunan Geusan Ulun.
Berdasarkan Layang Darmaraja, Prabu Tajimalela memberi perintah kepada kedua putranya (Prabu Lembu Agung dan Prabu Gajah Agung), yang satu menjadi raja dan yang lain menjadi wakilnya (patih). Tapi keduanya tidak bersedia menjadi raja. Oleh karena itu, Prabu Tajimalela memberi ujian kepada kedua putranya jika kalah harus menjadi raja. Kedua putranya diperintahkan pergi ke Gunung Nurmala (sekarang Gunung Sangkanjaya). Keduanya diberi perintah harus menjaga sebilah pedang dan kelapa muda (duwegan/degan). Tetapi, Prabu Gajah Agung karena sangat kehausan beliau membelah dan meminum air kelapa muda tersebut sehingga beliau dinyatakan kalah dan harus menjadi raja Kerajaan Sumedang Larang tetapi wilayah ibu kota harus mencari sendiri. Sedangkan Prabu Lembu Agung tetap di Leuwihideung, menjadi raja sementara yang biasa disebut juga Prabu Lembu Peteng Aji untuk sekedar memenuhi wasiat Prabu Tajimalela. Setelah itu Kerajaan Sumedang Larang diserahkan kepada Prabu Gajah Agung dan Prabu Lembu Agung menjadi resi. Prabu Lembu Agung dan pera keturunannya tetap berada di Darmaraja. Sedangkan Sunan Geusan Ulun dan keturunannya tersebar di Limbangan, Karawang, dan Brebes.

Setelah Prabu Gajah Agung menjadi raja maka kerajaan dipindahkan ke Ciguling. Ia dimakamkan di Cicanting Kecamatan Darmaraja. Ia mempunyai dua orang putra, pertama Ratu Istri Rajamantri, menikah dengan Prabu Siliwangi dan mengikuti suaminya pindah ke Pakuan Pajajaran. Kedua Sunan Guling, yang melanjutkan menjadi raja di Kerajaan Sumedang Larang. Setelah Sunan Guling meninggal kemudian dilanjutkan oleh putra tunggalnya yaitu Sunan Tuakan. Setelah itu kerajaan dipimpin oleh putrinya yaitu Nyi Mas Ratu Patuakan. Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai suami yaitu Sunan Corenda, putra Sunan Parung, cucu Prabu Siliwangi (Prabu Ratu Dewata). Nyi Mas Ratu Patuakan mempunyai seorang putri bernama Nyi Mas Ratu Inten Dewata (1530-1578), yang setelah ia meninggal menggantikannya menjadi ratu dengan gelar Ratu Pucuk Umun.
Ratu Pucuk Umun menikah dengan Pangeran Kusumahdinata, putra Pangeran Pamalekaran (Dipati Teterung), putra Aria Damar Sultan Palembang keturunan Majapahit. Ibunya Ratu Martasari/Nyi Mas Ranggawulung, keturunan Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Pangeran Kusumahdinata lebih dikenal dengan julukan Pangeran Santri karena asalnya yang dari pesantren dan perilakunya yang sangat alim. Dengan pernikahan tersebut berakhirlah masa kerajaan Hindu di Sumedang Larang. Sejak itulah mulai menyebarnya agama Islam di wilayah Sumedang Larang.

Ratu Pucuk Umun dan Pangeran Santri

Pada pertengahan abad ke-16, mulailah corak agama Islam mewarnai perkembangan Sumedang Larang. Ratu Pucuk Umun, seorang wanita keturunan raja-raja Sumedang kuno yang merupakan seorang Sunda muslimah; menikahi Pangeran Santri (1505-1579 M) yang bergelar Ki Gedeng Sumedang dan memerintah Sumedang Larang bersama-sama serta menyebarkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Pangeran Santri adalah cucu dari Syekh Maulana Abdurahman (Sunan Panjunan) dan cicit dari Syekh Datuk Kahfi, seorang ulama keturunan Arab Hadramaut yang berasal dari Mekkah dan menyebarkan agama Islam di berbagai penjuru daerah di kerajaan Sunda. Pernikahan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun ini melahirkan Prabu Geusan Ulun atau dikenal dengan Prabu Angkawijaya. Pada masa Ratu Pucuk Umun, ibukota Kerajaan Sumedang Larang dipindahkan dari Ciguling ke Kutamaya.
Dari pernikahan Ratu Pucuk Umun dengan Pangeran Santri memiliki enam orang anak, yaitu :
1. Pangeran Angkawijaya (yang tekenal dengan gelar Prabu Geusan Ulun)
2. Kiyai Rangga Haji, yang mengalahkan Aria Kuda Panjalu ti Narimbang, supaya memeluk agama Islam.
3. Kiyai Demang Watang di Walakung.
4. Santowaan Wirakusumah, yang keturunannya berada di Pagaden dan Pamanukan, Subang.
5. Santowaan Cikeruh.
6. Santowaan Awiluar.
Ratu Pucuk Umun dimakamkan di Gunung Ciung Pasarean Gede di Kota Sumedang.

Prabu Geusan Ulun

Prabu Geusan Ulun (1580-1608 M) dinobatkan untuk menggantikan kekuasaan ayahnya, Pangeran Santri. Ia menetapkan Kutamaya sebagai ibukota kerajaan Sumedang Larang, yang letaknya di bagian Barat kota. Wilayah kekuasaannya meliputi Kuningan, Bandung, Garut, Tasik, Sukabumi (Priangan) kecuali Galuh (Ciamis). Kerajaan Sumedang pada masa Prabu Geusan Ulun mengalami kemajuan yang pesat di bidang sosial, budaya, agama, militer dan politik pemerintahan. Setelah wafat pada tahun 1608, putera angkatnya, Pangeran Rangga Gempol Kusumadinata atau Rangga Gempol I, yang dikenal dengan nama Raden Aria Suradiwangsa menggantikan kepemimpinannya.
Pada masa awal pemerintahan Prabu Geusan Ulun, Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan sedang dalam masa kehancurannya karena diserang oleh Kerajaan Banten yang dipimpin Sultan Maulana Yusuf dalam rangka menyebarkan Agama Islam. Oleh karena penyerangan itu Kerajaan Pajajaran hancur. Pada saat-saat kekalahan Kerajaan Pajajaran, Prabu Siliwangi sebelum meninggalkan Keraton beliau mengutus empat prajurit pilihan tangan kanan Prabu Siliwangi untuk pergi ke Kerajaan Sumedang dengan rakyat Pajajaran untuk mencari perlindungan yang disebut Kandaga Lante. Kandaga Lante tersebut menyerahkan mahkota emas simbol kekuasaan Raja Pajajaran, kalung bersusun dua dan tiga, serta perhiasan lainnya seperti benten, siger, tampekan, dan kilat bahu (pusaka tersebut masih tersimpan di Museum Prabu Geusan Ulun si Sumedang). Kandaga Lante yang menyerahkan tersebut empat orang yaitu Sanghyang Hawu atau Embah Jayaperkosa, Batara Dipati Wiradijaya atau Embah Nangganan, Sanghyang Kondanghapa, dan Batara Pancar Buana atau Embah Terong Peot.
Walaupun pada waktu itu tempat penobatan raja direbut oleh pasukan Banten (wadyabala Banten) tetapi mahkota kerajaan terselamatkan. Dengan diberikannya mahkota tersebut kepada Prabu Geusan Ulun, maka dapat dianggap bahwa Kerajaan Pajajaran Galuh Pakuan menjadi bagian Kerajaan Sumedang Larang, sehingga wilayah Kerajaan Sumedang Larang menjadi luas. Batas wilayah baratnya Sungai Cisadane, batas wilayah timurnya Sungai Cipamali (kecuali Cirebon dan Jayakarta), batas sebelah utaranya Laut Jawa, dan batas sebelah selatannya Samudera Hindia.
Secara politik Kerajaan Sumedang Larang didesak oleh tiga musuh: yaitu Kerajaan Banten yang merasa terhina dan tidak menerima dengan pengangkatan Prabu Geusan Ulun sebagai pengganti Prabu Siliwangi; pasukan VOC di Jayakarta yang selalu mengganggu rakyat; dan Kesultanan Cirebon yang ditakutkan bergabung dengan Kesultanan Banten. Pada masa itu Kesultanan Mataram sedang pada masa kejayaannya, banyak kerajaan-kerajaan kecil di Nusantara yang menyatakan bergabung kepada Mataram. Dengan tujuan politik pula akhirnya Prabu Geusan Ulun menyatakan bergabung dengan Kesultanan Mataram dan beliau pergi ke Demak dengan tujuan untuk mendalami agama Islam dengan diiringi empat prajurit setianya (Kandaga Lante). Setelah dari pesantren di Demak, sebelum pulang ke Sumedang ia mampir ke Cirebon untuk bertemu dengan Panembahan Ratu penguasa Cirebon, dan disambut dengan gembira karena mereka berdua sama-sama keturunan Sunan Gunung Jati.
Dengan sikap dan perilakunya yang sangat baik serta wajahnya yang rupawan, Prabu Geusan Ulun disenangi oleh penduduk di Cirebon. Permaisuri Panembahan Ratu yang bernama Ratu Harisbaya jatuh cinta kepada Prabu Geusan Ulun. Ketika dalam perjalanan pulang ternyata tanpa sepengetahuannya, Ratu Harisbaya ikut dalam rombongan, dam karena Ratu Harisbaya mengancam akan bunuh diri akhirnya dibawa pulang ke Sumedang. Karena kejadian itu, Panembahan Ratu marah besar dan mengirim pasukan untuk merebut kembali Ratu Harisbaya sehingga terjadi perang antara Cirebon dan Sumedang.
Akhirnya Sultan Agung dari Mataram meminta kepada Panembahan Ratu untuk berdamai dan menceraikan Ratu Harisbaya yang aslinya dari Pajang-Demak dan dinikahkan oleh Sultan Agung dengan Panembahan Ratu. Panembahan Ratu bersedia dengan syarat Sumedang menyerahkan wilayah sebelah barat Sungai Cilutung (sekarang Majalengka) untuk menjadi wilayah Cirebon. Karena peperangan itu pula ibukota dipindahkan ke Gunung Rengganis, yang sekarang disebut Dayeuh Luhur.
Prabu Geusan Ulun memiliki tiga orang istri: yang pertama Nyi Mas Cukang Gedeng Waru, putri Sunan Pada; yang kedua Ratu Harisbaya dari Cirebon, dan yang ketiga Nyi Mas Pasarean. Dari ketiga istrinya tersebut ia memiliki lima belas orang anak:
1. Pangeran Rangga Gede, yang merupakan cikal bakal bupati Sumedang
2. Raden Aria Wiraraja, di Lemahbeureum, Darmawangi
3. Kiyai Kadu Rangga Gede
4. Kiyai Rangga Patra Kalasa, di Cundukkayu
5. Raden Aria Rangga Pati, di Haurkuning
6. Raden Ngabehi Watang
7. Nyi Mas Demang Cipaku
8. Raden Ngabehi Martayuda, di Ciawi
9. Rd. Rangga Wiratama, di Cibeureum
10. Rd. Rangga Nitinagara, di Pagaden dan Pamanukan
11. Nyi Mas Rangga Pamade
12. Nyi Mas Dipati Ukur, di Bandung
13. Rd. Suridiwangsa, putra Ratu Harisbaya dari Panemabahan Ratu
14. Pangeran Tumenggung Tegalkalong
15. Rd. Kiyai Demang Cipaku, di Dayeuh Luhur.
Prabu Geusan Ulun merupakan raja terakhir Kerajaan Sumedang Larang, karena selanjutnya menjadi bagian Mataram dan pangkat raja turun menjadi adipati (bupati).
Pemerintahan di bawah Mataram
Dipati Rangga Gempol
Pada saat Rangga Gempol memegang kepemimpinan, pada tahun 1620 M Sumedang Larang dijadikannya wilayah kekuasaan Kerajaan Mataram di bawah Sultan Agung, dan statusnya sebagai 'kerajaan' dirubahnya menjadi 'kabupatian wedana'. Hal ini dilakukannya sebagai upaya menjadikan wilayah Sumedang sebagai wilayah pertahanan Mataram dari serangan Kerajaan Banten dan Belanda, yang sedang mengalami konflik dengan Mataram. Sultan Agung kemudian memberikan perintah kepada Rangga Gempol beserta pasukannya untuk memimpin penyerangan ke Sampang, Madura. Sedangkan pemerintahan untuk sementara diserahkan kepada adiknya, Dipati Rangga Gede.

Dipati Rangga Gede

Ketika setengah kekuatan militer kadipaten Sumedang Larang diperintahkan pergi ke Madura atas titah Sultan Agung, datanglah dari pasukan Kerajaan Banten untuk menyerbu. Karena Rangga Gede tidak mampu menahan serangan pasukan Banten, ia akhirnya melarikan diri. Kekalahan ini membuat marah Sultan Agung sehingga ia menahan Dipati Rangga Gede, dan pemerintahan selanjutnya diserahkan kepada Dipati Ukur.
Dipati Ukur
Sekali lagi, Dipati Ukur diperintahkan oleh Sultan Agung untuk bersama-sama pasukan Mataram untuk menyerang dan merebut pertahanan Belanda di Batavia (Jakarta) yang pada akhirnya menemui kegagalan. Kekalahan pasukan Dipati Ukur ini tidak dilaporkan segera kepada Sultan Agung, diberitakan bahwa ia kabur dari pertanggung jawabannya dan akhirnya tertangkap dari persembunyiannya atas informasi mata-mata Sultan Agung yang berkuasa di wilayah Priangan.
Pembagian wilayah kerajaan
Setelah habis masa hukumannya, Dipati Rangga Gede diberikan kekuasaan kembali untuk memerintah di Sumedang. Sedangkan wilayah Priangan di luar Sumedang dan Galuh (Ciamis), oleh Mataram dibagi menjadi tiga bagian
• Kabupaten Sukapura, dipimpin oleh Ki Wirawangsa Umbul Sukakerta, gelar Tumenggung Wiradegdaha/R. Wirawangsa,
• Kabupaten Bandung, dipimpin oleh Ki Astamanggala Umbul Cihaurbeuti, gelar Tumenggung Wirangun-angun,
• Kabupaten Parakanmuncang, dipimpin oleh Ki Somahita Umbul Sindangkasih, gelar Tumenggung Tanubaya.
Kesemua wilayah tersebut berada dibawah pengawasan Rangga Gede (atau Rangga Gempol II), yang sekaligus ditunjuk Mataram sebagai Wadana Bupati (kepala para bupati) Priangan

Sabtu, 18 Juli 2009

Rencana pemerintah tentang waduk jati gede harus kita tanggapi dengan serius dan tidak gegabah.Rencana tersebut bukan hanya tanggung jawab pemda sumedang,atau intansi organisasi/Lsm budaya saja akan tetapi kita sebagai masyarakat sumedang khusus nya dan jawa barat harus kritis dengan waduk jati gede.
Kami pun Dari IJKCB Ikatan Juru kunci Cagar Budaya sumedang pun sedang berupaya solusi terbaik tentang program tersebut,pada waktu yang telah lalu Disparbud sumedang telah mengundang para juru kunci ( situs-situs keramat tertua)dan situs keramat yang yang akan terkena imbas genangan jati gede.Dalam Rapat tersebut saya mengambil kesimpulan 20% para juru kunci yang setuju dengan pemindahan situs keramat ke areal yang telah dipilih/disediakan oleh pemerintah sumedang.
Saya ingin bercerita buat wargi sumedang.Dalam rapat tersebut secara pribadi saya salah satu orang yang setuju dengan program pemindahan situs tersebut dengan pertimbangan bahwa Resi prabu Guru Aji putih pernah berkata/CACANDRAN ( bahasa sunda)Darmaraja Baris jadi Sagara 'yang artinya Darmaraja Baris/akan menjadi Sagara/lautan.Dengan kata lain yaitu waduk/bendungan. Jadi pemerintah hanya menjalan kan tuntutan jaman dan CACANdran tadi bisa jadi renungan buat kita semua bahwa Prabu guru Aji putih benar-benar tokoh kharismatik,berwibawa,sakti mandraguna weru sedurung winara.
Semasa hidup nya Prabu guru Aji putih sudah tahu dengan kejadian yang akan datang Dengan Tauhid aqo'id nya(Dengan izin Allah) mengatakannya secara turun menurun berapa abad sebelumnya sudah mengetahuinya darmaraja akan tergenang menjadi lautan/waduk.dengan pertimbangan tersebut awal nya saja setuju dengan pemindahan situs dan kapasitas saya dalam rapat tersebut karena terkait dengan kepengurusan Ikatan Juru kunci Cagar budaya (IJKCB).
Akan tetapi Setelah Selang beberapa hari ketika selesai sembahyang malam dan diteruskan dengan berdzikir saya terkejut dengan datang nya Sosok bercahaya putih.mendatangi saya secara tiba-tiba dan langsung memarahi saya dalam bahasa sunda" Kami Ticipaku.Silaing budak sayong,Lamun bener silaing rek bela ka kami silaing kudu mindahkeun Gunung Tampomas kacipaku.lantaran silaing geus sayong ka kami silaing moal bisa usik sabelas poe sabelas peuting,Artinya :Saya dari cipaku,Kamu anak so tahu,kalau benar kamu peduli dengan saya Kamu harus bisa memindahkan gunung tampomas(gunung terbesar di sumedang) Karena kamu telah so tahu/lancang pada saya, kamu tidak bisa bergerak(badan)selama 11hari,11 malam.Saya hanya terdiam mengingat-ingat segala ucapan dengan nada marah kepada saya.waallahualam yang menhampiri saya ketika berdzikr tadi apakah Prabu guru Aji putih.setelah berpikir lama hingga dzikir saya terhenti seketika dan saya sadar dengan kesalahan saya Pada waktu rapat di disparbud saya mengajak para juru kunci untuk mengikuti program pemindahan situs yang diantaranya makam keramat Prabu guru Aji putih.
Dan ke esokan harinya ketika mau bangun tidur seluruh badan saya sudah lemas tanpa daya tak bisabergerak,tak bisa melihat dan mendengar,hingga ibu saya mengetahui kondisi saya seperti itu hanya bisa menangis sedih karena sebelum tidur sempat berceritasemua tentang kejadian ghaib yang saya alami.
singkat cerita sebelas hari pun berlalu sekitar jam 9 malam secara ajaib seluruh badan saya bergerak normal kembali,dan hal aneh setelah lemas tanpa daya 11 hari tiba-tiba seperti punya tenaga baru di umpamakan Batrai yang telah dicharger.langsung bangkit tanpa merasakan sakit sedikitpun setelah berbaring 11hari.Dengan kejadian tersebut saya bertekad mencari makna dari tiap kata-kata Prabu guru Aji putih Kalau kamu peduli dengan saya harus bisa memindahkan gunung tampomas ke cipaku,kalimat memindah kan gunung tampomas kecipaku membuat saya dikatakan Gila/(kalimat ejekan)tong tarik teuing bisi owah hayang mindahkeun gunung, hanya kata ejekan yang saya dapat kan ketika saya berkonsultasi untuk mencari tahu petunjuk tersebut(siloka).
Karena tiap kali bertanya tentang kalimat tersebut tidak menemukan jawaban tetapi sebalik nya hanya ejekan yang saya terima,tapi saya semakin penasaran dan semakin ingin tahu arti memindahkan gunung tampomas???
Akhirnya saya memutuskan untuk RIYADOH bertirakat dipuncak tampomas dengan harapan bisa mendapat jawaban tentunya seiring dengan izin allah,berangkatlah saya ke tampomas dengan berpuasa pad hari senin siang dan berencana tirakat selama 3hari/seminggu.tapi karena waktu itu musim hujan saya tidak kuat meneruskan tirakat untuk hari ke 3/seminggu.dalam 2hari saya belum mendapatkan petunjuk apapun.padahal shalat hajat nya sudah di tambah hitungan raka'at nya dan di tambah ke khusyuan nya.dan jam 7 pagi dalam kondisi hujan saya menuruni gunung tampomas,dan sampailah say dipenggalian pasir jam 9pagi.setelah ada mobil truk angkutan pasir,saya pun ikut numpang di bak truk yang penuh pasir....
Dan tanpa disangka allah memberikan jawaban dengan memberikan gambaran di areal galian pasir terdapat batu sangat besar sisa galian (kanan jalan ketika turun dari tampomas)yang setengah dari batu besar itu terendam air hujan.dengan melihat hal itu buat saya adalah jawaban dari maha kuasa atas kesungguhan saya pada waktu itu.dan dengan prediksi dan pemikiran instan saya.UNTUK ME MINDAHKAN GUNUNG TAMPOMAS KE CI PAKU.Bukan berarti memindahkan gunung nya akan tetapi galian pasir yang berada dikaki gunung tampomas dipindahkan ke cipaku,mungkin dalam kurun waktu sebelum program waduk jati gede terlaksana, cipaku akan menjadi gunung karena ada areal penggalian.Dengan penggalian dataran cipaku yang tadinya rendah bisa menjadi tinngi dengan ada penggalian(di bentuk gunung)sehingga Volume air akan turun ke lahan bekas penggalian.
Saya sangat senang dengan saya mendapat solusi untuk jati gede....dan saya belum puas dengan hasil tirakat dan buah pemikiran saya,kemudian saya mau konsultasikan dulu ke beberapa rekan yang mengerti hal siloka,dan saya bersilaturahmi dengan pa Yosep Rohimas (P.O CBU)tapi sebelum saya mengatakan hasil pengalaman,penemuan/petunjuk itu.pa Yosep lebih dulu bercerita tentang solusi jati gede dengan cara memindahkan penggalian pasir di kaki gunung tampomas cibeureum smd ke cipaku,ternyata petunjuk yang sama.
Di beberapa kesempatan saya ceritakan pengalaman saya ke pada pejabat penting sumedang.walupun saya tahu hal seperti itu tidak masuk akal untuk orang pemerintahan,dan saya mencoba berusaha menyampaikan solusi itu:
saya melakukan berbagai upaya ,agar pemerintah mau mendengar bahwa Pemindahan situs keramat bukan cara terakhir/pamungkas...tapi dengan cara menggali lahan di areal situs (dibentuk gunung)jadi kalau air pasang akan seperti Nusa/pulau(seperti wisata Ziarah Panjalu).

Dan saya melakukan wawancara secara visual dengan para kuncen/jurukunci prihal program jati gede.dan hasilnya.................Semua Setuju dengan program jati gede dengan syarat situs jangan dipindahkan,karena TEMPAT DAN WAKTU SEJARAH TIDAK BISA DIGANTIKAN>>!!!!!

Saya mohon Do'a dan dorongan moral untuk menyelamatkan situs yang berada di daerah genangan jati gede,Mari kita berjibaku,bahu membahu dengan pemerintah PEMKAB sumedang untuk mensukseskan program jati gede tanpa upaya pemindahan situs keramat.ASAl USUL SUMEDANG KARENA ADANYA LELUHUR YANG ADA DI AREAL GENANGAN JATI GEDE.
SITUS TENGGELAM/PINDAH JATI DIRI SUMEDANG TIDAK AKAN PERNAH ADA.......
SUMEDANG KOTA BUDAYA????heheehe PR bersama

Alamat situs keramat Kecamatan Sumedang selatan

1.Gunung Ciung Pasarean Gede
#Pangeran Santri/Kusumah Dinata 1
#Ratu pucuk umun
#Raden Djamu/Pangeran kornel
#Dalem Istri Raja Ningrat
#Kyai Patih Guntur Geni
#Pangeran Karuhun
#Mbah Komarudin/Mbah jangkung
#Dalem Talun
#Dalem Alit
#Dalem istri Siti Aminah(ibu nya P. mekah)
Lingk.Pasarean Gede 02/12 kel.Kota kulon
Juru kunci :
1.Nana Sujana 3.Ibu Unah
2.lili Solihin 4.Pa Usman

2.Keramat Gunung Cupu
#Brata Kusumah Binti sayang kadaka
(Ayah Mbah jaya Perkasa)
#Buyut Halimah
#Buyut Cupu
lingk.Sayang 01/06 kel.kota kulon
Juru kunci :
1.Beben 3.Nana
2.Abah Maman 4.Kundang

3.Pangeran Rangga gede
lingk.Panday 01/06 kel.Regol wetan
Juru kunci :
1.Jono surawijaya
2.Ridwan

4.Keramat Manangga
#Mbah Banda yuda
#Raden Aria Sacapati
#Ratu Ajeng Nimang Mantri
#Mbah Banda yuda
#Ratu Kencana Wulan
#Ratu Ningrum kusumah
#Ratu inten
#Nyi Dewi Asih
#Mbah Seca manggala(kuncen pertama)
Lingk.Manangga 01/06 kel.Regol wetan
Juru kunci : Ibu Siti Dewi Aisyah

5.keramat Gunung puyuh
#Pangeran Sugih/Raden Soma Nagara
#K.H mustofa 1
#Pahlawan nasional Cut nyak dien
#Rangga gempol
#Raden Suria Dilaga.
#Komplek leluhur Dan keturunanya.
Jl.cut nyakdien04/07 Gg.SukaHaji kel.Regol wetan
Juru kunci :
1.H.Dana miharja 3.Deni Sumadilaga
2.Ebod 4.Nana

6.Keramat Baginda
Syekh Baginda Ali
Dsn. Baginda 02/03 Ds.Baginda-Smd Selatan
Juru kunci : Yayat

7.Keramat Cipancar
#Sunan Pancer Buana #Buyut Tajur
#Raden Sutra Bandera #Mbah Dewa
#Prabu purbaSora #Buyut Kadalumping
Dsn.Cipancar 04/01 Ds.Cipancar Smd Selatan
Juru kunci :
1.M.H Suhardi
2.Toto

8.Keramat Nangtung
#Mbah Jagabaya
#miramaya
#Singa Kerta
Dsn.Nangtung - Ds.Ciherang-Sumedang selatan
Juru kunci :
1. A.Suharman
2.Mustofa

9.Keramat Jamban
Mbah Tubagus Suren
Dsn.Jamban Ds.giri mukti sumedang selatan
Juru kunci : Abun

10.Buyut tunjang nagara
Dsn.Cibenda Desa giri mukti-Sumedang selatan
Juru kunci : 1.Maman 2.Herman

11.Keramat Gunung Gadung
#Mbah Rangga Wulung
#Buyut Putih
Dsn.Gunung gadung 01/04 Desa Sukajaya
Juru kunci :
1.Iwan Hermawan
2.Uus

12.Cagar budaya Gunung Kunci
Dsn.Panjunan 02/04 kel.Kota kulon Sumedang selatan
Juru kunci : Ade

13.Buyut Tenjo Nagara
Dsn.Cirangkong kel. Kota kulon kec.sumedang selatan
Juru kunci : Ahmad muhamad

14. Eyang Tamela
Dsn.Cipameungpeuk kel.Cipameungpeuk
Juru kunci : Maman

Situs Keramat yang akan tenggelam dengan proyek jati gede???

kata penggusuran/dipindahkan bukan hanya mengancam pedagang kaki lima,tetapi mengancam keberadaanPara leluhur sumedang yang bersemayam di wilayah proyek pembangunan waduk jati gede.
25 situs keramat kuno sebelum kerajaan Sumedang larang,terancam kelestarian nya, Asal muasal Kota sumedang tentu tidak luput dari sejarah,etnis,peradaban seni dan budaya dari leluhur yang ada di wilayah proyek waduk jati gede. Leluhur yang bersemayam di sekitar proyek itu terbagi beberapa golongan:

1.Golongan RAJA/Prabu
2.Patih/Senopati
3.Kerabat Raja/Abdi Dalem/Para pengikut
4.Pamuka lembur/Kuwu/Sesepuh lembur.
Dari ke 4 golongan tersebut tersebar di pelosok/di sekitar areal proyek waduk jati gede.
Sebagai gambaran Saya lampirkan data situs yang terancam kelestarian nya:

(1)KeramatLeuwi Loa (Mbah WACANA)
DeSa.Leuwihideung- Darmaraja.

2) Situs Nangewer, berupa makam kuna (keramat)
Embah Mohammad
Abrul Saka, yang berlokasi di Kampung Nangewer,
Desa.Leuwihideung- Darmaraja.

(3) Situs Tembongagung, bekas-bekas kerajaan
Tembongagung yang sudah sulit dikenali, hanya
ditemukan sebaran keramik Cina dari masa Dinasti
Ming, yang berlokasi di Kampung Muhara, Desa
Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja.

(4) Situs Pasir Limus, merupakan kompleks makam kuna
Eyang Jamanggala, Eyang Istri Ratna Komala Inten,
Eyang Jayaraksa (Eyang Nanti)

5) Situs Muhara, berupa makam keramat Eyang
Marapati dan Eyang Martapati, yang berada di Desa
Leuwihideung, Kecamatan Darmaraja;

(6) Situs
Marongpong, berupa makam keramat Embah Sutadiangga
dan Embah Jayadiningrat, pendiri Kampung Cihideung,
yang berlokasi di Desa Leuwihideung, Kecamatan
Darmaraja.

7) Situs Nangkod, makam Embah Janggot Jaya Prakosa,
yang berlokasi di Kampung Nangkod Desa Leuwihideung,
Kecamatan Darmaraja.

(8) Situs Sawah Jambe, berupa
tiga batu berdiri (menhir) yang terletak di wilayah
Kampung Sawah Jambe, Desa Leuwihideung, Kecamatan
Darmaraja.

(9) Situs Lameta, berupa makam keramat Embah Dira
dan Embah Toa, pendatang dari Betawi yang membedah
aliran Cihaliwung dan Cisadane. Tokoh ini juga
diceritakan sebagai orang (tempat lalandong/berobat)
Prabu Siliwangi. Situs Lameta berada di pemukiman
penduduk Kampung Lameta Desa Leuwihideung, Kecamatan
Darmaraja

10) Situs Betok, kompleks makam yang berlokasi di
Kampung Betok, Desa Leuwihideung, Kecamatan
Darmaraja

(11) Situs Tanjungsari, berupa kompleks
makam kuno Embah H. Dalem Santapura bin Betara
Sakti, penyebar agama Islam di Darmaraja, dengan
enam makam putranya, yang berlokasi di Dusun Kebon
Tiwu, Desa Cibogo, Kecamatan Darmaraja.
makam Demang Patih Mangkupraja,
Patih Sumedang semasa Pangeran Kornel, dan
makam-makam para juru kunci. Dekat situs terdapat
sumur kuno yang disebut keramat Cikahuripan

(12) Situs Munjul, berupa kompleks makam dengan
makam utama Singadipa, yang berlokasi di Kampung
Munjul, Desa Sukamenak, Kecamatan Darmaraja

(13) Situs Keramat Eretan, berupa makam keramat Embah
Geulis, istri Prabu Gajah Agung, dan makam-makam
lainnya yang berlokasi di Kampung Cisurat, Desa
Cisurat, Kecamatan Wado.

(14) Situs Cipawenang, yakni mata air
keramat. Situs ini berada dilokasi Kampung Cigangsa,
Desa Pawenang, Kecamatan Wado. Konon mata air ini
Hasil cipta ilmunya Nyi Mas Ratu Asih, putri
dari Kerajaan Nunuk di Majalengka.

(15) Situs Cigangsa
makam Embah Dalem Raden Arya Wangsa Dinaya. Situs
berlokasi di Kampung Cigangsa Desa Pawenang,
Kecamatan Wado.

(16) Situs Gagak Sangkur, berupa makam keramat Raden
Aria Sutadinata ( berasal dari Banten) yang
berlokasi di Kampung Sundulan, Desa Padajaya,
Kecamatan Wado

(17) Situs Tulang Gintung, berupa
makam keramat Eyang Haji Rarasakti atau Jayasakti
yang berlokasi di Pasir Leutik, Kampung Sundulan,
Desa Padajaya, Kecamatan Wado.

(18) Situs Keramat Gunung Penuh, berupa makam
keramat Tresna Putih, yang berlokasi di dusun
Bantarawi, Desa Padajaya, Kecamatan Wado

(19) SitusKeramat Buah Ngariung
makam Embah Wangsapraja,
penyebar Islam di Buah Ngariung
dsn. Buah Ngariung, Desa Padajaya-Wado.

(20) Situs Curug Mas, terbagi tiga komplek pemakaman, yaitu
pertama, kompleks makam Embah Dalem Panungtung Haji
Putih Sungklanglarang, penyebar agama Islam dari
Kesultanan Mataram dan makam pengikutnya yang
bernama Angling Dharma, kedua, air terjun Curug Mas
yang diyakini sebagi tempat menyimpan bokor emas,
bakakak (ayam dibelah) emas, dan tumpeng emas; dan
ketiga,keramat sumur Bandung.
Situs ini berlokasi di Kampung Cadasngampar, Desa
Sukakersa, Kecamatan Jatigede.

(21) Situs Cadasngampar, makam Aki
Angkrih, pendatang dari Sumatra yang mendirikan
Kampung Cadasngampar, dan makam keluarganya, yaitu
makam Aki Angkrih, Nini Angkrih, Aki Kulo, dan Nini
Kulo. Situs ini berlokasidi Dusun Cadasngampar, Desa
Sukakersa, Kecamatan Jatigede.

(22) Situs Tanjakan Embah, berupa makam keramat
Embah Jagadiwangsa dan Embah Sadaya Pralaya, yang
berlokasi di Desa Jemah, Kecamatan Jatigede.

(23) Situs Sukagalih, Ada lima makam yang dilengkapi
bangunan cungkup. Leluhur
pendiri desa ini yaitu Eyang Akung. Di sebelah
baratnya adalah makam istrinya
Aki Gading dan dua makam tanpa nama.
Situs ini berlokasi di Dusun Sukagalih, Desa Jemah
Kecamatan Jatigede.

(24) Situs Keramat Aji Putih. Situs
Kampung Cipeueut, Desa Cipaku, Kecamatan Darmaraja
makam Ratu Ratna Inten Nawangwulan, makam
Prabu Aji Putih, dan makam Resi Agung

(25) Situs Astana Gede Cipeueut.
Prabu Lembu Agung, Embah Jalul, dan
istri Prabu Lembu Agung.Petilasan Kerajaan Tembong agung

Alamat makam keramat Kecamatan Ganeas

1.Keramat Dayeuh Luhur
Prabu Geusan ulun,Ratu Haris baya
Rangga gempol 1/Pangeran Bembem
Mbah Jaya Perkasa,Buyut Ronggeng
Dsn.Dayeuh luhur 03/02 Ds.Dayeuh luhur-Ganeas
Juru kunci:
1.Ust.Aceng Hermawan
2.Dudu
3.Nono
4.Toto
5.E.Muklis
6.Suharna
7.Darya
8.Suhandi

2.Mbah Nangganan/Mbah Kondang hapa
Dsn.Cileuweung 05/04 Ds.Sukaweuning-Ganeas
juru kunci : Yuyu Nurangga

3.Nyimas Ratu tjukang gedeng waru
Dsn.Cigobang 03/04 Ds.Cikondang-Ganeas
Juru kunci :Nunung nurmalia

4.Mbah Jaya Dipanata
Dsn.Sadarayna 01/03 Ds.bangbayang-Ganeas
Juru kunci : Ust.Ahmad

5.Mbah Haji putih
Dsn.Ganeas 03/05 Ds.Ganeas-Ganeas
Juru Kunci : Kibohim

6.Keramat gunung Susuru
Dsn.Sahang 03/06 Ds.Dayeuh luhur-Ganeas
Juru kunci : Asep Salim

7.Pangeran Sumenep
Dsn. Cibungur 01/02 Ds.SukaWeuning-Ganeas
Juru kunci : Isad

8.Mbah Terong Peot/Pancer Buana/Jagalawang
Dsn.Batugara 08/10 Ds.BatuGara-Ganeas
Juru kunci : Banduy

Alamat makam keramat Kecamatan Situraja

1.Keramat Situraja
Buyut Merah dan Buyut Situraja
Keramat Situ/Cileutik
Dsn.Situraja 03/02 Ds.Situraja-Situraja
Juru kunci :
1.Tayim
2.Dede

2.Dalem Wirakara
Dsn Cikadu 02/02 Ds.Cikadu-Situraja
Juru Kunci :
1.Djamuh
2.Juanda

3.Buyut Ande dan Buyut Bunut
Dsn.Bunut 01/02 Ds.Cijati-Situraja
Juru kunci : Aki Ajum

4.Lingga Taktak
Dsn.Campaka kaler 03/04 Ds.Sunda mekar-Situraja
Juru kunci : Yayat kusumah

5.Mbah Pamelang Luwuk
Dsn.Luwuk 02/04 Ds.Sunda mekar-Situraja
Juru kunci : Ajum

6.Embah Pangkon luwuk
Dsn.luwuk 02/04 Ds.Situraja-Situraja
Juru kunci : Aki Aja

7.Patilasan Nyimas dayang Sumbi Dan Sangkuriang
Dusun.Bangbayang 04/08 Ds.Bangbayang-Situraja
Juru kunci :
1.Saripudin
2.Poleng

8.Buyut Cimuncang
Dsn.Cimuncang 02/08 DsSituraja-Situraja
Juru kunci : Sumarta

9.Keramat Tarik Kolot
Dsn mekar mulya 02/03 Ds.Tarik kolot-Situraja
juru kunci : Mista`